Cara mengategorikan tuberkulosis (TB) telah berkembang seiring waktu, mengikuti perubahan metode utama yang digunakan untuk mendeteksinya. Pada pertengahan abad ke-20, banyak negara, terutama negara maju, menggunakan skrining massal dengan foto rontgen dada yang memungkinkan identifikasi spektrum penyakit TB yang luas, termasuk pada individu tanpa gejala yang jelas. Ketika angka TB menurun di negara-negara berpendapatan tinggi pada paruh kedua abad ke-20, upaya pencegahan dan pelayanan TB global beralih ke negara berpendapatan rendah dan menengah. Dalam konteks ini, keterbatasan sumber daya mendorong fokus pada diagnosis dan pengobatan TB menular yang bergejala, yang pada saat itu dianggap sama dengan TB BTA positif, sehingga memperkuat pandangan bahwa gejala merupakan penentu utama adanya penyakit.
Sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian terhadap TB tanpa gejala yang jelas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan laporan mengenai TB asimtomatik pada tahun 2025. Laporan tersebut memperkenalkan pembedaan antara TB simptomatik (symptomatic TB, sTB) dan TB asimtomatik (asymptomatic TB, aTB), yang semata-mata didasarkan pada ada atau tidaknya gejala TB yang dilaporkan saat skrining.
Gejala TB yang dilaporkan memang berkorelasi dengan tingkat keparahan penyakit. Sebagai contoh, tinjauan terhadap survei prevalensi TB nasional menunjukkan adanya hubungan berkekuatan sedang antara keluhan batuk dan hasil sputum BTA positif. Gejala yang lebih berat dan/atau menetap kemungkinan mencerminkan tingkat keparahan TB yang lebih tinggi dibandingkan gejala ringan, seperti batuk sesekali. Beberapa bukti juga menunjukkan bahwa gejala yang cukup berat hingga mendorong seseorang mencari pelayanan kesehatan dan terdiagnosis secara pasif (petugas kesehatan didatangi pasien) mungkin merupakan indikator keparahan penyakit yang lebih bermakna dibandingkan gejala yang hanya dilaporkan saat skrining aktif (petugas kesehatan mendatani pasien). Namun demikian, adanya hubungan statistik tidak cukup untuk menjadi satu-satunya dasar penggunaan gejala yang dilaporkan oleh pasien sebagai alat klasifikasi penyakit.
Meskipun berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit, gejala yang dilaporkan pasien tidak menjadi indikator yang kuat, andal, maupun dapat digeneralisasikan untuk menentukan status penyakit. Status gejala memang menarik sebagai cara mengklasifikasikan tingkat keparahan TB karena biayanya rendah, sederhana, dan mudah diterapkan dalam skala besar. Namun, alternatif yang lebih mumpuni dan objektif untuk mengklasifikasikan status penyakit sebetulnya sering kali sudah tersedia, misalnya kuantifikasi beban kuman Mtb dalam sputum menggunakan diagnostik molekuler atau penilaian luas serta morfologi kerusakan paru pada foto rontgen dada, baik berdasarkan interpretasi radiolog maupun hasil perangkat computer-aided detection (CAD) berbasis akal imitasi.
Laporan WHO juga menimbulkan pertanyaan mengenai optimalisasi pengobatan untuk TB asimtomatik. Pengembangan rejimen yang lebih singkat, lebih mudah ditoleransi, serta pendekatan pengobatan TB yang lebih beragam sesuai kondisi pasien tentu patut disambut baik. Namun, mengingat keterbatasan gejala yang dilaporkan sebagai indikator keparahan penyakit, gejala, terutama gejala ringan, sebaiknya tidak dijadikan kriteria utama dalam menentukan siapa yang layak menerima rejimen yang kurang intensif. Sebaliknya, metode yang lebih objektif kemungkinan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai penentuan manakah individu yang cukup diberi rejimen obat yang lebih ringan. Pendekatan ini juga akan memerlukan pedoman pengobatan yang spesifik untuk berbagai setting dan kelompok risiko, mengingat pelaporan gejala dapat sangat bervariasi antar populasi.
Pengumpulan data mengenai gejala yang dilaporkan saat skrining akan memerlukan perubahan besar pada sistem pengumpulan data di sebagian besar negara, karena saat ini data yang lebih detail umumnya baru dikumpulkan setelah diagnosis ditegakkan. Jika negara memiliki kapasitas untuk mengumpulkan data notifikasi tambahan, penambahan penilaian yang lebih objektif terkait keparahan penyakit akan lebih bermanfaat, seperti kategori semikuantitatif Xpert atau informasi mengenai apakah kasus ditemukan melalui penemuan kasus pasif atau aktif. Perbedaan tersebut kemungkinan lebih mencerminkan tingkat keparahan penyakit dibandingkan hanya berdasar pada gejala yang dilaporkan saat skrining. Pada negara yang memiliki kapasitas memadai, kombinasi indikator mikrobiologis, radiologis, dan klinis akan memberikan gambaran paling komprehensif mengenai tingkat keparahan penyakit.
Saat ini, estimasi insidens TB WHO belum membedakan antara TB asimtomatik dan TB simptomatik. Meskipun survei prevalensi menunjukkan bahwa sekitar setengah dari individu dengan TB prevalen tidak melaporkan adanya gejala, mengukur peran gejala dalam estimasi insidens jauh lebih sulit. Kesulitan ini disebabkan oleh keterbatasan data yang tersedia untuk menghasilkan estimasi yang kuat serta berbagai kelemahan penggunaan data gejala yang dilaporkan sebagai indikator status penyakit.
===
Translation © 2026 Yoseph Samodra. This text is a translated adaptation of portions of: McCreesh N, MacPherson P, Bampi JV, Engel N, Kranzer K, Khan PY. Reported tuberculosis symptoms: an inadequate classifier of disease state. Clinical Infectious Diseases. 2026 Mar 15;82(3):e589-94. Available at: https://doi.org/10.1093/cid/ciaf611.
The original article is licensed under CC BY 4.0: https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/. Copyright in the original work remains with the original authors. This translation was prepared by Yoseph Samodra. Translation-related contributions are © Yoseph Samodra. Any translation errors are the translator’s responsibility.